Kemenperin Genjot Kinerja Industri Furnitur dan Elektronik

22-07-2020

Senin, 22 Juni 2020 

Kementerian Perindustrian terus memantau aktivitas sektor industri di tanah air selama masa pandemi Covid-19. Selain menjaga keberlangsungan produktivitasnya, sektor manufaktur diharapkan tetap mengutamakan penerapan protokol kesehatan.


“Jadi, ada dua prinsip yang kini perlu dipegang oleh perusahaan, yakni tetap produktif dan aman Covid-19,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita ketika meninjau langsung proses produksi dan penerapan protokol kesehatan di pabrik furnitur PT Saniharto Enggalhardjo, Demak, Jawa Tengah, Senin (22/6).


Menurut Menperin, pihaknya fokus mendorong sektor industri agar lebih berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Sebab, selama ini sektor manufaktur mampu memberikan sumbangsih cukup signifikan bagi perekonomian Indonesia.


Capaian industri manufaktur terlihat pada triwulan I tahun 2020. Sektor industri masih menjadi kontributor paling besar terhadap struktur PDB nasional hingga 19,98 persen, meskipun di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19. “Kami telah memetakan sejumlah sektor yang perlu dipacu kinerjanya karena punya potensi sebagai motor penggerak ekonomi saat ini,” ungkapnya.


Salah satu sektor tersebut adalah industri furnitur, lantaran berorientasi ekspor dan padat karya. “Kami melihat, Saniharto telah menjadi kebanggaan bagi bangsa, dengan mampu menghasilkan produk-produk yang klasifikasinya high-end,” ujar Agus.


Hal tersebut juga membuktikan bahwa kompetensi sumber daya manusia (SDM) industri di Indonesia berkualitas. Misalnya, yang ditunjukkan oleh para karyawan PT Saniharto Enggalhardjo dalam membuat alat musik grand piano dengan spesifikasi yang terbaik di dunia.


“Saniharto ini adalah industri dalam negeri yang telah mendapat kepercayaan luar biasa dari klien internasional, bukan hanya level biasa saja, tapi dari kalangan ekonomi up scale. Dengan menghasilkan produk berkualitas tinggi ini, artinya anak bangsa mampu memenuhi kebutuhan dan selera pasar global,” paparnya.


Bahkan, di tengah masa pandemi Covid-19, pabrik yang memproduksi furnitur ekspor untuk kebutuhan perhotelan, apartemen, perumahan mewah, serta perkantoran itu masih menerima order baru yang cukup besar dari jaringan perusahaan hotel di luar negeri. Sehingga, perusahaan tetap beroperasi tanpa melakukan PHK maupun pemotongan gaji, dengan menerapkan protokol kesehatan terhadap 2.000 pekerjanya.


Guna mencegah penyebaran Covid-19 di antara karyawan, PT Saniharto Enggalhardjo memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat. Dimulai dengan menerapkan antrean berjarak saat karyawan masuk perusahaan, pengecekan suhu tubuh secara berkala, penyediaan bilik disinfektan, juga penerapan jaga jarak saat bekerja.


Menperin menyampaikan, salah satu tujuan peninjauan ke PT. Saniharto adalah melihat penerapan protokol kesehatan di perusahaan. Ini merupakan tugas bagi Kemenperin yang selama ini menerbitkan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) kepada perusahaan dan kawasan industri. “Perusahaan ini sudah menjalankan protokol kesehatan dengan sangat baik, dan tidak ada kasus. Ini sebuah hal yang sangat membanggakan, sehingga saya dapat merekomendasikan kepada Bapak Presiden untuk hadir di pabrik ini,” tutur Agus.


Kemenperin mencatat, industri furnitur mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional melalui capaian nilai ekspornya. Sepanjang tahun 2018, nilai pengapalan produk furnitur nasional menembus hingga USD1,69 miliar atau naik empat persen dibanding perolehan tahun 2017.


Pantau Pabrik Polytron

Dalam kesempatan itu, Menperin Agus juga meninjau pabrik elektronik PT Hartono Istana Teknologi di Sayung, Demak, Jawa Tengah. Sebab, industri elektronik merupakan salah satu sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0.


“Pertama, tujuan kunjungan kami ke pabrik Polytron ini dalam rangka melihat langsung penerapan protokol kesehatan sesuai dengan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Kami memantau apakah ada petugas di pabrik yang khusus menangani protokol kesehatan atau kepala gugus tugas,” tuturnya.


Ternyata, di setiap fasilitas pabriknya, perusahaan sudah menunjuk satu orang karyawan yang bertugas memastikan protokol kesehatan sudah dijalankan dengan baik setiap harinya. “Ini satu hal positif. Kami juga bisa lihat bahwa Polytron relatif sudah menerapkan industri 4.0 atau digitalisasi, sehingga tidak terlalu bermasalah dalam mengatur physical distancing,” ungkapnya.


Di samping memantau penerapan protokol kesehatan, Menperin juga ingin mendapat laporan langsung dari pihak perusahaan terkait dampak pandemi Covid-19 terhadap penjualan dan utilisasi. Penjualan produk Polytron memang sempat mengalami tekanan akibat Covid-19. Penyebabnya adalah menurunnya permintaan, selain itu juga karena keterbatasan mobilitas karena PSBB. “Karena keterbatasan mobilitas dan juga banyak toko atau retail yang belum buka, maka terjadi gangguan dari penjualannya,” ungkap Agus.


Namun mulai awal Juni, sudah terlihat ada rebound terhadap penjualan sejumlah produk PT Hartono Istana Teknologi. “Ini kasus yang unik, mungkin karena Polytron sudah punya kredibilitas di pasar, sehingga tidak terlalu mengalami tekanan,” imbuhnya.


Menperin menambahkan, pihaknya bertekad untuk terus memperdalam struktur industri elektronik di dalam negeri sehingga bisa memacu daya saingnya hingga kancah global. “Misalnya, dalam proses produksi TV, di supply chain-nya, kami ingin semaksimal mungkin komponen yang digunakan adalah dari dalam negeri,” tegasnya.


Menteri AGK optimistis, impelementasi kebijakan optimalisasi penggunaan komponen lokal akan mendorong substitusi impor. “Menurut pandangan kami, itu bisa membantu pada aspek supply chain. Sedangkan, untuk industri seperti Polytron, bisa menekan biaya karena tidak menggunakan mata uang dolar untuk pembelian komponen. Hal ini juga akan memperkuat kondisi rupiah kita. Jadi, banyak sekali multiplier effect yang bisa kita capai dengan pendalaman struktur industri,” tandasnya.


PT Hartono Istana Teknologi merupakan perusahaan manufaktur yang menghasilkan berbagai produk elektronika jenis audio video, telepon seluler dan kebutuhan rumah tangga dengan merek Polytron. Memiliki tiga pabrik di Jawa Tengah dengan luas total mencapai 69 hektare, perusahaan yang berstatus penanaman modal dalam negeri ini mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 10 ribu orang.

Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.

Sumber berita:http://www.kemenperin.go.id/artikel/21780/Kemenperin-Genjot-Kinerja-Industri-Furnitur-dan-Elektronik